Minggu, 31 Oktober 2010

Tingkatan 5 K

Oleh : Auliya Ayatullah *)
1. Kepintaran
2. Kecerdasan
3. Kelincahan
4. Kejujuran
5. Keimanan     
Semua orang ingin menjadi orang pintar agar di sekolah dan lingkungannya di kenal dan di hargai, tetapi semua itu salah, karna kepintaran itu kalah dengan kecerdasan, kecerdasan itu kalah dengan kelincahan, kelincahan itu kalah dengan kejujuran, dan yang pasti kejujuran itu pasti mempunyai keimanan, dengan mempunya keimanan kita pasti taat kepada ALLAH SWT menjalani perintahnya dan menjahui laranganny.
Maka dari itu kita semua harus menetapkan KEJUJURAN (ya ayyuhalladi naamanullaha wakunu ma'assodiqin "wahai orang - orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLAH dan hendaklah kalian berada bersama orang - orang yang jujur") ini bukti dalil yang nyata, maka dari itu kejujuran harus di jungjung tinggi agar negara dan kehidupan kita ini berjalan dengan lancar, aman, dan barokah. amin....


ETOS KERJA YANG BERMAKNA

ETOS KERJA YANG BERMAKNA

Oleh  : Auliya Ayatullah*)

SETIAP orang yang bekerja rata-rata menghabiskan waktu 30 s.d 40 tahun, setelah itu pensiun menjadi komunitas lansia, seraya menunggu malaikat Maut datang menjemputnya untuk menghadap keharibaan-Nya. Perihal itu, bekerja menghabiskan waktu yang tidak sedikit bukan hanya mencari sesuap nasi. Tetapi, juga untuk mencari makna bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Untuk menggapai makna keduanya, paling tidak ada dua hal yang bisa menjelaskan: Pertama, pekerjaan harus sesuai dengan minat, kompetensi profesi, dan peluang. Ketiga-tiganya sangat erat kaitannya dalam menunjang profesi. Misalnya, ada peluang tetapi tidak berminat, namun masih relevan dengan kompetensi. Hal semacam itu, diperlukan kesiapan mental. Bahwa seseorang harus siap menghadapi berbagai situasi dalam menempuh “misi kerja”. 
Kesiapan mental yang kuat dalam mengemban misi pekerjaan sebagai amanat yang dipercayakan, yang dengannya menjadi sebuah praktik moralitas bersyukur. Kedua, mencintai pekerjaan. Ada banyak pekerja yang tidak langsung mencintai pekerjaannya, dikarenakan belum mendalami dengan baik. Dalam bekerja selalu dihadapkan dua hal, yaitu mencintai pekerjaan dan/ atau mengeluh setiap hari. Bagi mereka yang tidak mencintai perofesinya kebanyakan mengeluh.
Menurut Jansen Sinamo, ia mengutip dari filsuf asal Jerman, Johann Wolfgang von Goethe: “Its not doing the thing we like, but liking the thing we have to do, that makes life happy”. (Jangan mengerjakan sesuatu yang hanya kita sukai, tetapi cintailah sesuatu yang harus kita kerjakan, itu akan membuat hidup bahagia).
 Dalam hidup kadang kita harus melakukan sesuatu yang tidak disukai dan tidak punya pilihan lain. Sementara itu, kita tidak boleh semau gue. Kata orang bijak: “Jika suka makan ikan, konsekwensinya harus mau ketemu duri”. Dalam dunia kerja, kata duri dapat dianalogikan gaji yang kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang kurang empatik dan masih banyak lagi yang seirama dengan itu. Dari sinilah seorang pekerja menjalani gemblengan dan ujian mental, yang dengannya memperluas wawasan, pengalaman untuk menjadi seorang pekerja yang andal dan memiliki etos kerja.
Sejak zaman kolonial Belanda,  tenaga kerja di negeri ini sudah terkenal    kurang bagus, tentara Belanda menamakan inlander (pemalas), sebutan ini termasuk cemoohan yang berkonotasi ejekan pemalas. Berbeda dengan etos samurai yang dimiliki oleh bangsa Jepang, sejak dulu terkenal dan dikenal sebagai bangsa yang pekerja keras dan ulet.
Bangsa penyembah matahari itu, dalam bekerja bukan berarti tidak mengenal waktu seperti para pecandu kerja (workaholic). Tetapi, mereka pandai mengatur waktu, baik untuk kepentingan pekerjaan yang telah terprogram dan maupun untuk keperluan lain diluar jam kerja. Prinsipnya adalah, bahwa bekerja untuk semua dan semua harus bekerja baik bawahan maupun atasan. 
 Ada banyak atasan yang mengharapkan bawahannya bekerja keras, sementara itu ia sendiri banyak melakukan hal-hal yang melemahkan semangat kerja bawahan. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Jansen: Atasan yang suka mengkritik bawahan, tetapi tidak pernah memuji jika bawahan berprestasi. Bukankah setiap insan menyukai penghargaan (reward)? Sangat manusiawi, tentunya.
 Konosuke Matsushita, salah seorang pendiri perusahaan Matsushita Elektrik Industrial (MET) menjadi contoh yang bagus. Begini ceritanya: Pada tahun 1929, saat itu terjadi resesi dunia membuat pertumbuhan ekonomi Jepang anjlok tajam. Hampir seluruh perusahaan di negeri Sakura itu melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawannya, sehingga perusahaan MET terpaksa memangkas produksi hingga setengahnya. Namun, Matsushita menjamin tak seorang-pun karyawan yang terkena PHK. Konsekwensinya, pimpinan perusahaan mengajak seluruh karyawan untuk bekerja keras, mereka dilatih dan dididik untuk menjual hasil produksi, dan hasilnya “sungguh luar biasa”. Para karyawan yang terlatih dan terdidik berubah menjadi tenaga marketing yang memiliki etos kerja dan profesional, yang dengannya menjadikan perusahaan MET terkuat di Jepang di zamannya.
 Etos kerja
Ada banyak pengertian etos kerja, misalnya: 1) Merupakan perilaku khas suatu komunitas atau organisasi, mencakup motivasi yang menggerakkan, karakteristis utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, dan standar-standar, 2)  Keyakinan, berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekolompok orang dan/ atau sebuah institusi, 3) Sehimpunan perilaku positif,  lahir sebagai keyakinan fundamental dan komitmen total pada paradigma kerja yang integral atau terpadu.
Jadi, etos kerja adalah roh dari keberhasilan kerja yang saling menguatkan antara kompetensi, karakter, yang dilandasi oleh nilai-nilai komitmen, doktrin dan keyakinan. Jika semua syarat tersebut berfungsi dengan baik akan melahirkn etos kerja yang bermakna: 1) Bekerja adalah rahmat, apapun profesi anda misalnya sebagai pengusaha, BUMN, sebagai aparat pemerintah yang duduk di eksekutif, di  legislatif, sebagai PNS, dan bahkan sebagai tenaga buruh kasar sekalipun adalah rahmat dari Sang Khalik. Dengan bekerja, berarti mempunyai sumber pendapatan yang rutin sebagai rezki yang halal.
Dengan bekerja, setiap awal bulan menerima gaji dan tunjangan profesi, dengan bekerja mempunyai banyak teman dan kesempatan untuk menambah ilmu dan memperluas wawasan. 2) Bekerja adalah amanat, Presiden dan Wakilnya menerima amanat dari seluruh rakyat, anggota DPR-RI menerima amanat dari rakyat daerah pemelihannya, pramuniaga menerima amanat dari pemilik toko, PNS menerima amanat dari negara.
Para penerima amanat yang tidak jujur, ancamannya neraka: “Neraka wel bagi pemimpin, neraka wel bagi staf, dan neraka wel bagi orang yang menerima amanat”. Demikian sabda Rasul.
Penjelasan: Pemimpin yang masuk neraka: Bagi mereka yang tidak amanat, tidak berlaku adil, dan tidak belas kasihan. Staf yang masuk neraka: Bagi mereka yang bekerja semau gue dan hanya menuntut haknya supaya terpenuhi. Penerima amanat yang masuk neraka: Bagi mereka yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik, datang ke kantor hanya setiap tanggal muda mengambil gaji buta.
3) Bekerja adalah ibadah, dalam bekerja niatnya untuk mencari nafkah yang halal, yang dengannya sebagai penunjang kelancaran menghambakan diri kepada-Nya. Bukankah ibadah haji diwajibkan bagi orang-orang yang berduit? Dan jika belum menunaikan ibadah haji islamnya belum sempurnah.
4) Bekerja adalah panggilan, misalnya profesi dokter, perawat, guru, pengusaha, petani dan profesi lainnya. Pada hakikatnya adalah pengabdian dan panggilan jiwa. Dokter dan perawat terpanggil untuk membantu orang sakit, para ustadz dan guru terpanggil untuk menyebarkan ilmu kepada muridnya, para penulis terpanggil   menginformasikan kebenaran kepada publik, dan para petani terpanggil untuk menyediakan pangan bagi umat manusia.
Jika setiap tenaga profesional di kolom ini menyadari, bahwa bekerja adalah panggilan jiwa yang bernilai ibadah, ia akan mengatakan begini: “I’m doing my best” (saya akan melakukan yang terbaik).
5) Bekerja adalah kehormatan, Ibnu Zina ilmuwan muslim dan jsgo filsafat. Telah menulis banyak buku termasuk buku tentang obat-obatan, yang dengannya menjadi pedoman dan acuan ilmu kedokteran masa kini. Sejarah telah mengukir dengan tinta emas, bahwa Ibnu Zina telah memberikan sumbangan yang sangat besar kepada dunia dan perkembangan IPTEK.
 6) Bekerja adalah pelayanan, seorang pemahat tiang yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir tiang hingga ke ujung paling tinggi. Orang bertanya, buat apa anda membuat ukiran yang indah di tempat yang tak terlihat ? Manusia dan kalian tidak bisa menatap dan manikmati ukiran saya. Tetapi, Sang Khalik bisa menatapnya, jawab si pemahat.
Pada pertengahan abad ke XX,  di Prancis hiduplah seorang Duda sebatang kara karena ditinggal mati oleh isteri dan anak-anaknya, kemudian ia pergi ke sebuah lembah Cavennen yang jauh dari keramaian orang. Di lembah yang sepih itu, ia mengembala kambing dan menanam biji oak disepanjang lembah Cavennen. Ia bekerja tanpa mengharapkan imbalan dan tak seorangpun yang memujinya saat itu.  Ia meninggal dunia pada usia 89 tahun dan meninggalkan harta warisan yang luar biasa: Tanaman hutan lebat sepanjang 11 km, tanah yang semula tandus kini menjadi subur, sungai-sungai yang dulunya kering kini airnya melimpah dan mengalir kembali. Kekayaan alam peninggalannya itu, kini dinikmati oleh orang-orang yang tak dikenalnya.
Ibnu Zina, Duda asal Prancis, dan ahli seni pemahat itu, mereka telah mengajarkan kepada kita perihal etos kerja yang bermakna, motivasinya hanya mengharapkan ridloh Allah swt. Hal semacam itu, sebaiknya juga dipunyai oleh kita semua, khususnya para pemangku jabatan dan seluruh tenaga profesional ***. Wallahu ‘alam.   
*) Auliya Ayatullah: Mahasiswa

MENUJU POLA HIDUP HEMAT


MENUJU POLA HIDUP HEMAT

Oleh  : H. Mansyur *)


 KEHARUSAN membudayakan pola hidup hemat, bukan hanya golongan ekonomi menengah ke bawah. Tetapi, pada hakikatnya berlaku bagi semua orang. Hanya cara penghematannya yang berbeda. Jika orang kaya setiap akhir pekan sekeluarga makan di restauran tentu tidak termasuk pemborosan, lain halnya dengan keluarga yang penghasilannya pas-pasan. Jangankan setiap akhir pekan makan di restauran, setahun sekalipun tidak pernah di programkan.
Jadi. Pola hidup hemat, bukan karena jumlah rupiah yang banyak dikeluarkan setiap harinya, tetapi adanya keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. Meskipun pengeluarannya banyak, tapi saldonya masih banyak, tidak termasuk pemborosan alias tergolong pola hidup hemat.
Yang terpenting, jangan sapai lebih besar pasak dari pada tiang. Sabda Rasul: “Sungguh beruntung orang yang hemat lagi bekerja keras” (HR. Ahmad) Maka benar kata orang: “Jika anda tidak bisa menghargai uang satu rupiah, maka anda tidak akan bisa menghargai uang seribu rupiah”.
Penghematan
Ada banyak cara menyikapi menuju pola hidup hemat: 1) Program eliminasi atau penghilangan biaya: Kegiatan yang dianggap tidak perlu dilakukan, meskipun terlihat spele tetapi sarat dengan makna dalam menyikapi penghematan. Misalnya, membiasakan mematikan lampu pada saat seluruh anggota keluarga mulai tidur, dan mematikan TV ketika shalat. 2) Program pengurangan biaya atau reduksi: Misalnya apakah AC harus dihidupkan secara terus menerus selama 24 jam ? Ketika larut malam biasanya suhu udara mulai turun, anak-anak dan seluruh anggota keluarga sudah tidur. Saat itulah AC dimatikan, dan menggantinya dengan kipas angin, hal ini tidak mengurangi kenikmatan tidur. 3) Melakukan program subsitusi atau penggantian menekan biaya: Barang-barang keperluan rumah tangga dan perabot lainnya yang diimpor dari luar negeri, harganya jauh lebih mahal ketimbang buatan dalam negeri dan kualitasnya cukup bagus. Untuk penghematan, gunakanlah buatan dalam negeri. 4) Program komplementer atau penambahan untuk menekan biaya: Cara yang ke empat ini beda dengan poin 1 s.d 3. Khususnya bagi komunitas lansia, usahakan   mengkonsumsi jus buah yang segar secara rutin. Hal ini, perlu biaya tambahan untuk membeli buah segar. Tetapi, ini adalah cara penghematan, sebab dengan rutin mengkonsumsi jus buah yang segar, kesehatan anggota tubuh menjadi sehat bugar, yang dengannya dapat mengurangi pengeluaran biaya kesehatan untuk berobat ke dokter.
Barang bekas
Masyarakat kita pada umunya kurang menghargai barang-barang bekas, setiap rumah pasti ada barang bekas yang bisa di uangkan. Katakanlah, botol kecap kosong, kardus dan barang bekas lainnya. Jika setiap menemukan barang bekas di rumah dan sekitarnya lalu dikumpulkan dengan baik selama satu tahun. Lalu dijual menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kan,  bisa menambah   belanja dapur untuk  sajian 1 Syawal.
Mungkin anda pernah melihat kotak tempat penjepit kertas  (paper clips), isi dan ukurannya beragam. Didalam kotak tersebut, sejumlah penjepit kertas bekas yang dipergunakan kembali (didaur ulang). Untuk itu, kebiasaan membuang penjepit kertas yang sudah dipakai jangan terulang, sebaiknya dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali.
Hal yang sama, ketika anda memfoto copy sekian eksemplar makalah atau dokumen lainnya, ternyata nota pembayaran yang diberikan kepada anda terbuat dari kertas bekas yang sudah tidak dipakai lagi, semua itu cara hidup hemat. 
Memang, sebutir pasir sangat tidak berarti dalam kehidupan, tetapi jika butiran-butiran pasir tersebut dikumpulkan dan dimenej dengan baik, hingga bertumpuk-tumpuk dan  menggunung. Jika melihat tumpukan pasir sebanyak itu,   dalam benak kita adalah uang jutaan rupiah.
Konon, masyarakat Barat pada umunya dan termasuk orang-orang kaya, mereka tidak merasa malu melakukan yard-sale atau grage-sale. Adalah mereka menjajakan barang-barang yang sudah tidak dipakai di halaman rumah dan /atau di garasi mobilnya. Barang-barang bekas mereka jual hanya untuk mengumpulkan uang sekian puluh dolar. Uang hasil penjualannya itu. dari sudut pandang manapun, terlihat kurang berarti dan bahkan sangat kurang berarti bagi si penjualnya. Tetapi, begitulah cara mereka dalam hal menghargai dolar.
Mengelola keuangan
Untuk merealisasikan pola hidup hemat, supaya menghindari kesalahan sekecil apapun dalam pengelolaan keuangan. Para pakar keuangan keluarga di Barat, telah diidentifikasi berbagai kesalahan pengelolaan keuangan. Hal ini,  harus dihindari sehingga dapat mewujudkan pola hidup hemat, antara lain:
1. Kebiasaan berandai-andai, seseorang nekat membeli lotre dengan harapan akan mendapatkan hadiah utama, yang nilainya ratusan juta dan bahkan milyaran rupiah. Selain itu, dalam benak kita berharap mendapatkan harta warisan dalam jumlah yang sangat besar. Dan berhenti menabung, juga berhenti membayar hutang, menunggu saat yang lebih baik, baru akan menabung dan membayar hutang lagi.
2.  Menunggu hujan turun padahal tidak memiliki payung, saat ini baru kita sadar bahwa keseluruhan biaya rutin bulanan yang harus dibayarkan setiap bulannya sekian x rupiah, sedangkan tidak ada lagi sisa uang untuk ditabung. Ada keluarga yang sakit dan harus berobat dengan biaya yang cukup mahal, saat itu kita baru sadar tidak mampu menyumbang biaya pengobatan tanpa berhutang. Terlebih orang tua kita sakit sedangkan tidak punya uang untuk membentu mereka. Dan bahkan biaya liburanpun harus menambah hutang padahal hutang sebelumnya, juga belum lunas.
3. Kebiasaan memberi makan “monster” (pos pengeluaran yang besar),  kita mempunyai hutang 3x lebih besar ketimbang pendapatan kotor tahunan. Dengan begitu, setiap bulannya tidak bisa menabung, yang dengannya juga tidak bisa menyumbang kepada handai tolan yang sangat membutuhkan pertolongan. Akhirnya, hidup kita susah karena tidak bisa mengatur keuangan, dan justru keuanganlah yang mengatur kita.
4.  Mengabaikan hubungan keuangan dengan kesehatan, ada banyak orang dan mungkin juga teramsuk kita,  kurang peduli berolah raga secara rutin tiga kali dalam seminggu. Sehingga mengabaikan minuman kesehatan secara rutin, misalnya  minuman mutli vitaman semacam suplmen mineral. Dengan begitu,  kurang memperhatikan pentingnya melakukan tes kesehatan secara berkala. Akhirnya, keuangan dan kesehatan kita tidak stabil, yang dengannya badan menjadi kurus kering dan tidak bergairah lagi karena stress.
5.  Kendaraan harus mencerminkan siapa kita ? Untuk menjaga gengsi, terpaksa kita harus membeli atau menyewa beli (leasing) mobil baru, padahal kita sudah memiliki kendaraan roda empat. Dan bahkan, mobil kita lebih dari satu yang tidak digunakan sedikitnya dua kali seminggu. Dengan begitu, pembayaran tahunan keseluruhan biaya kendaraan, lebih kurang dari 5% penghasilan kotor tahunan.
Adalah pola hidup hemat sangat berkaitan dengan masalah keuangan. Perihal itu, pembelajaran mengelola keuangan harus dilakukan secara terus menerus. Sehingga, perilaku pentingnya sadar akan biaya, dapat diimplementasikan dalam keseharian menuju pola hidup hemat. Hal ini, sangat membantu dalam mengatasi problema ekonomi dalam keluarga. Terlebih,  saat ini harga sembako dan barang-barang lainnya terus meroket, seiring dengan semakin sulitnya mencari tambahan pendapatan.
Lalu bagaimana Pegawai Negeri Sipil (PNS) “yang bukan pejabat” ? Ekonomi PNS semakin terpuruk. Meskipun tahun 2010 yang akan datang, rencana pemerintah akan menaikkan gaji PNS sebesar 5% dari gaji pokok. Secara matematis, pendapatan PNS akan bertambah 5%. Namun, pada hakikatnya pendapatan mereka justru berkurang. Hal ini, karena kenaikkan harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya, jauh lebih besar ketimbang kenaikkan gaji mereka.
Maka, kecakapan pengelolaan keuangan harus dilakukan oleh setiap anggota keluarga menuju pola hidup hemat. Sehingga efisiensi dan keefektifan pemanfaatan keuangan membawa berkah dan tidak terbuang sayang (mubazir), Wallahu ‘alam ***.
*) H. Mansyur: Anggota asosiasi guru penulis PGRI Provinsi Jawa Barat


  
     
       

 

















































RANGKUMAN ANALISIS SISTEM INFORMASI (ASI)


ANALISIS SISTEM INFORMASI

A.                 SISTEM
Ludwig Von Bartalanfy.
Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan.
Anatol Raporot.
Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain.
L. Ackof.
Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya.
Syarat -syarat sistem :
1.      Sistem harus dibentuk untuk menyelesaikan tujuan.
2.      Elemen sistem harus mempunyai rencana yang ditetapkan.
3.      Adanya hubungan diantara elemen sistem.
4.      Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi dan material) lebih penting drpd elemen sistem.
5.      Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan elemen.
Secara garis besar, sistem dapat dibagi 2 :
1.      SISTEM FISIK ( PHYSICAL SYSTEM ):
Kumpulan elemen-elemen/ unsur-unsur yang saling berinteraksi satu sama lain secara fisik serta dapat diidentifikasikan secara nyata tujuan-tujuannya.
Contoh :
-         Sistem transportasi, elemen : petugas, mesin, organisasi yang menjalankan transportasi .
-         Sistem Komputer, elemen : peralatan yang berfungsi bersama-sama untuk menjalankan pengolahan data.
2.      SISTEM ABSTRAK ( ABSTRACT SYSTEM):
Sistem yang dibentuk akibat terselenggaranya ketergantungan ide, dan tidak dapat diidentifikasikan secara nyata, tetapi dapat diuraikan elemen-elemennya.
Contoh : Sistem Teologi, hubungan antara manusia dengan Tuhan.         - 1
Dan yang harus kita ingat
Suatu sistem tanpa informasi akan tidak berguna, karena suatu sistem yang kurang mendapatkan informasi akan mengalami kemacetan dan akhirnya berhenti. Dengan demikian informasi sangat penting bagi suatu sistem.
Informasi sendiri berasal dari data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.(McFadden, dkk 1999) mendefinisikan informasi sebagai data yang telah diproses sehingga mempunyai arti dan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut.